Logo Jasa Pembuatan Lagu

Jasa Pembuatan Lagu

lagu dangdut terbaru crita katresnan

Cerpen : Crita Katresnan (by CH Indrasmara & Sal)

Mata bulat berwarna coklat gelap yang sangat menawan, rambut panjang bergelombang terurai dengan indahnya, dan senyuman manis yang memukau. Semua deskripsi itu dimiliki oleh seorang gadis bernama Qirana. Gadis cantik itu saat ini terlihat sedang membuka sebuah kotak yang cukup besar berwarna hitam dengan pita berwarna merah yang menghiasi kotak tersebut. Ia memandangi sebuah bingkai foto dalam kotak tersebut dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya. Kedua matanya memperlihatkan seolah – olah ada kesedihan yang bersembunyi di balik sebuah senyuman yang terukir. Ia membelai foto yang ada pada bingkai tersebut dengan tatapan yang sedikit sendu. “Jika saat itu aku tidak memutuskan untuk berhenti, apakah hubungan itu akan masih berjalan dengan baik – baik saja sampai saat ini?” kata Qirana pada sebuah bingkai foto yang memiliki berbagai kenangan.

Pada saat Qirana berusia 13 tahun, saat ia berada di Sekolah Menengah Pertama yang dimana untuk pertama kalinya itu menjadi awal mula ia merasakan perasaan jatuh cinta. Salah satu lelaki tinggi dan tampan di sekolahnya membuat gadis itu mengalami cinta pandangan pertama di hidupnya, yang bahkan tidak pernah ia sangka sebelumnya. Pertemuan awal itu dimulai ketika jam menunjukkan pukul 06.45, dimana waktu itu Qirana terlihat sedang sangat terburu-buru. Ia mengambil tasnya lalu berpamitan dengan ayah dan ibunya untuk berangkat ke sekolah “ayah!ibu! Qirana berangkat dulu ya, udah hampir telat.” Gadis itu berlari ke depan rumah dan segera berangkat ke sekolah bersama dengan ojek online yang sudah ia pesan sebelumnya. Jarak antara rumah dan sekolahnya memang tidak terlalu jauh, namun ia tetap harus berangkat lebih awal karena tak jarang jalanan padat dengan kendaraan – kendaraan lainnya yang juga akan memulai aktivitas masing-masing. Saat berada di perjalanan yang sudah tidak terlalu jauh dari sekolah, ia melihat ada seorang lelaki menggunakan seragam yang sama dengannya tiba – tiba terjatuh dari sepeda karena berusaha menghindari kucing yang sedang menyebrang dengan cepat. BRAK!!! Qirana yang saat itu juga ikut terkejut melihat seseorang yang mendadak jatuh, ia langsung meminta ojek yang ia naiki untuk berhenti dan menurunkannya di sana. Qirana segera berlari menghampiri lelaki itu dengan sangat cepat, gadis itu membantu lelaki itu untuk berdiri dan menepi. “Apa kau tidak apa – apa?” tanya gadis itu sembari membantu lelaki itu untuk menepikan sepedanya. Lelaki itu hanya menjawab pertanyaan Qirana dengan singkat “iya ”. Qirana yang baru saja selesai menepikan sepeda pun terkejut dengan jawaban singkat dan dingin dari lelaki tersebut. “Apa apaan dia!! Bukankah harusnya ia berterimakasih padaku.” Batin gadis itu.

Qirana membalikkan badannya dan beralih menatap wajah lelaki dingin yang tidak tahu terima kasih itu. Kedua mata gadis itu terbelalak dan berbinar binar saat menatap wajah lelaki dihadapannya. “tampan sekali” batin Qirana. Seluruh bagian dari wajah lelaki itu membuat Qirana terpukau dan nyaris tidak berkedip. Ia yang awalnya merasa sangat kesal dengan jawaban lelaki itu, tiba – tiba langsung merubah ekspresinya menjadi sangat ramah dan murah senyum. Gadis itu seketika tersenyum dan duduk di sebelah lelaki itu “siapa namamu? Aku Qirana, apa kau benar baik – baik saja? aku bisa mengantarmu ke dokter jika kau memang membutuhkannya, bagaimana?” lelaki itu mengernyitkan keningnya dan menoleh ke arah Qirana yang berada di sampingnya saat itu. “Apa kau memang selalu cerewet seperti ini?” Qirana yang mendengar kata – kata dari lelaki itu langsung menganggukan kepalanya dengan cepat. Keheningan menyelimuti mereka berdua selama kurang lebih 15 menit lamanya, hingga gadis itu tersadar bahwa ia harusnya berada di sekolah sekarang. “Astaga!!! Aku harus berangkat ke sekolah, aku tidak mungkin membolos karena ada ujian pagi ini.” kata Qirana dengan panik sambil melangkah kan kakinya berjalan kesana kemari. “kalau begitu aku duluan ya! Sebenarnya aku masih ingin mengobrol denganmu tapi sepertinya ujianku lebih penting untuk kali ini.” ketika Qirana akan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan lelaki itu, tiba – tiba saja seseorang yaitu lelaki tersebut menarik tas ransel yang Qirana pakai. “Bareng aku saja, kebetulan sekolah kita sepertinya sama jika dilihat dari seragammu.” Katanya, lalu dilanjut dengan melepaskan genggaman tas ransel milik gadis di hadapannya. Qirana tersenyum dan menyetujui ajakan lelaki itu, mereka berdua pun segera berangkat bersama menuju ke sekolah. Di perjalanan, pipi gadis itu terlihat merona sambil melihat sekitar jalan dengan senyuman yang masih terlukis di wajahnya. Gadis melihat punggung lelaki yang saat ini sedang menggoncengnya itu sambil berkata dalam hati “tidak kusangka, aku bisa di bonceng dengan lelaki tampan seperti ini. Mungkin Tuhan mempertemukanku dengan jodohku jauh lebih cepat dari bayanganku. Terima kasih ya Allah, aku akan langsung menerima dengan ikhlas jika lelaki ini jodohku, kalau bisa yang ini saja aku mohon.”

Sesampainya di sekolah, sekolah sudah terlihat sangat sepi karena memang saat itu jam sudah menunjukkan pukul 07.30 AM yang artinya mereka berdua sudah terlambat. Petugas kedisiplinan pun menghukum mereka berdua, sebenarnya Qirana sudah mencoba menjelaskan kepada petugas kedisiplinan bahwa mereka berdua baru saja mengalami musibah sehingga menyebabkan mereka terlambat datang ke sekolah. Sayangnya karena tidak ada tanda – tanda yang menunjukkan bahwa perkataan Qirana adalah benar, jadi mereka berdua tetap harus melaksanakan hukuman berjemur di lapangan selama 20 menit sesuai dengan peraturan yang ada. Gadis itu cukup kesal dengan hukuman yang harus ia lakukan, namun ia juga tidak sepenuhnya kesal. Berkat bertemu dengan petugas kedisiplinan ia jadi mengetahui nama lelaki itu. ‘Andra’ ya! Itu adalah nama lelaki yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Pertemuan awal itu menumbuhkan keberanian pada diri Qirana, yang membuat gadis itu terus mencari cara agar ia mendapatkan perhatian dari Andra. Namun, seiring bertumbuhnya perasaan di hati, semakin susah pula untuk digapai. Sejak sadar bahwa ia menyukai Andra, Qirana jadi lebih sering tersipu saat ketika ia bertemu dengan Andra secara tidak sengaja di sekolah. Padahal di hari pertama ia bertemu dengan Andra, ia sangat aktif berbicara dan tidak berhenti menatap lelaki itu, entah mengapa saat ini gadis itu justru sangat mudah tersipu. Perasaan yang selalu ingin bertemu dengan Andra membuatnya sangat frustasi karena bingung harus berbuat apa. Ingin sekali rasanya ia berlari menghampiri kelas Andra dan menemui lelaki itu, namun sayangnya ia tidak bisa mengontrol perasaan tersipunya saat ia bertemu dengan Andra, apalagi saat kedua mata mereka tidak sengaja bertemu.

Suatu ketika di sekolah, saat itu jam menunjukkan pukul 15.00 dimana yaitu adalah waktu pulang sekolah yang telah tiba. Qirana saat itu sangat bimbang karena ia merasa sudah hampir 1 minggu lamanya ia tidak mengobrol dengan Andra, bertemu pun hanya saling melempar tatapan. Keinginan untuk dekat dengan Andra sudah sangat besar, ia juga takut jika ia hanya diam seperti ini maka entah kapan akan ada kemajuan dari perjuangannya untuk mendapatkan perhatian dari Andra. Saat itu ia melihat Andra berjalan keluar dari gerbang sekolah sambil menuntun sepada miliknya, Qirana langsung menunduk saat melihat Andra akan melewatinya. Gadis itu sesekali mencuri – curi pandang, karena tidak mungkin ia melewatkan momen untuk melihat wajah lelaki pujaan hatinya itu. Namun tak disangka bahwa saat itu Andra memberhentikan langkahnya tepat di depan Qirana, hal itu membuat Qirana mengangkat kepalanya dan menatap lelaki pujaannya yang saat itu sudah berada di hadapannya. “Kau belum dijemput rupanya, mau pulang bareng? Aku bisa mengantarmu pulang sampai ke rumah dengan selamat.” Ucap Andra. Saat itu Qirana sangat bingung dengan sikap Andra yang tiba – tiba berubah jadi hangat dan tidak sedingin saat ia pertama kali bertemu dengannya. Selain bingung gadis itu juga sangat tersipu dengan tawaran Andra, kedua pipinya memerah dan ia juga dapat merasakan panas dalam dirinya hingga lelaki di hadapannya bahkan bisa melihat rona pada wajah Qirana. “Kenapa wajahmu merona? Apa kau sakit?” Tanya Andra. Qirana yang mendengar kata – kata Andra seketika langsung merasa malu dan berkata dengan nada yang terlihat cukup gugup “aku tidak merona karena aku gugup dengan tawaranmu.” Ucap gadis itu dengan spontan yang setelah beberapa detik kemudian ia langsung sadar dengan apa yang telah ia katakan. Gadis itu segera mebelalakan kedua matanya karena merasa terkejut dengan ucapannya sendiri, ia juga segera berlari masuk ke dalam sekolah sambil berkata pada Andra “aku sudah pesan ojek online, aku akan tunggu di dalam, sampai jumpa.” Andra tidak bisa menahan untuk tersenyum saat melihat dan mendengar tingkah serta ucapan gadis itu.

Di dalam sekolah lebih tepatnya di pos satpam, ia terduduk di sana sambil terus memaki dirinya sendiri mengenai apa yang sudah ia ucapkan tadi. Ia sebenarnya juga cukup menyesal karena harus menolak ajakan pulang bersama dari Andra. Ia tidak akan pernah tahu kapan kesempatan bagus seperti tadi akan datang lagi. Saat itu Qirana sudah mulai membayangkan jika saja ia menerima ajakan Andra, maka mungkin ia akan mengalami kemajuan yang cukup pesat untuk kisah cintanya itu. “Kenapa aku sangat susah menyembunyikan perasaanku, kenapa aku mudah sekali tersipu, aku sangat ingin menghabiskan waktu bersamanya lebih banyak tetapi aku tidak bisa menahan perasaan canggung ku ini.” katanya dengan pelan hingga hanya dirinya yang dapat mendengar perkataannya itu.

Beberapa hari berlalu, Qirana tidak bertemu dengan Andra kurang lebih hampir seminggu lamanya. Gadis itu berfikir mungkin saja Andra tidak masuk sekolah, hal itu membuatnya gelisah memikirkan kemana perginya lelaki pujaannya itu. Tidak melihat Andra sehari saja sangat menyiksanya apalagi ini sudah 3 hari lamanya. Setiap hari gadis itu selalu berpura – pura melewati kelas Andra hanya untuk mengecek apakah lelaki pujaannya itu ada di kelas atau tidak. Perasaan rindu yang tidak bisa ia tahan membuatnya nekat untuk bertaya kepada salah satu teman kelas Andra yang juga merupakan kakak kelas Qirana yang cukup dekat dengan Qirana, ia bertanya mengenai keberadaan Andra yang tidak terlihat di sekolah sudah cukup lama. Pencarian informasi mengenai Andra tidak sia – sia, ia akhirnya mengetahui alasan Andra tidak terlihat di sekolah adalah karena Andra sedang izin karena ada acara keluarga mendesak di luar kota. Hati Qirana setidaknya sudah cukup tenang karena itu tandanya berarti Andra baik – baik saja.

Hari demi hari, bulan demi bulan pun berlalu. Kisah cinta Qirana juga masih belum ada perkembangan lagi karena keberanian gadis itu masih saja kalah dengan tingkahnya yang sangat mudah tersipu saat berhadapan dengan Andra. Awalnya gadis itu memutuskan untuk menyukai lelaki itu dalam diam karena ia merasa bahwa dirinya sudah tidak sanggup melawan perasaan malu, salah tingkah, dan mudah tersipu saat bertemu dengan Andra. Semua itu sebelum ia mengalami kejadian atau momen dimana saat itulah kisah cintanya mendadak memiliki kemajuan yang sangat besar. Saat itu adalah hari weekend yang artinya sekolah libur, saat itulah Qirana memutuskan untuk menghabiskan waktunya di rumah dengan bermalas – malasan dan menonton banyak film kesukaannya. Ibu dan ayahnya sedang berada di luar kota, gadis itu sendirian di rumah hingga saat ia merasa lapar ia harus pergi keluar dari rumah untuk mencari atau membeli makanan. Dengan perasaan malas dan tampilan acak – acakan, ia memutuskan untuk keluar dari rumah dan pergi ke supermarket yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Menggunakan hoodie, celana jogger, dan rambut yang sedikit acak – acakan, ia berangkat menggunakan ojek online seperti biasanya.

Saat sampai pada supermarket tujuannya, ia segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam supermarket, tetapi sebelum itu ia harus mengalami kejadian menyebalkan. Kebetulan tepat di sebelah supermarket tersebut ada sebuah lapangan basket, entah bagaimana bisa bola basket itu datang padanya. Saat ia baru saja melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam supermarket, tiba – tiba saja dengan sangat cepat bola basket menghantam kepalanya dengan cukup kencang hingga membuatnya terjatuh. Gadis itu memegangi kepalanya dan mencoba berdiri namun gagal karena ia merasa terlalu pusing saat itu. Ia hanya dapat merasakan seseorang memegang kedua lengannya dan membantunya untuk berdiri perlahan – lahan. “Qirana! Apa kau baik – baik saja?” ucap seseorang di hadapannya. Karena ia merasa tidak asing dengan suara tersebut, ia segera mengangkat kepalanya dan memastikan apakah dugaannya benar. Ya! Benar saja itu adalah Andra, lelaki itu terlihat masuk ke dalam supermarket dan tak lama setelahnya keluar dengan membawa sebotol air mineral yang segera ia bukakan tutup botol air tersebut dan memberikan sebotol air itu pada Qirana. Gadis itu meminum air yang diberikan oleh Andra dengan perlahan – lahan.

Andra memutuskan untuk mengantarkan gadis itu pulang, sebelum pulang Andra mengajak Qirana ke sebuah taman yang letaknya tidak jauh dari lokasi supermarket. Lelaki itu berharap Qirana bisa menenangkan dirinya setelah musibah kecil yang ia alami di supermarket tadi. Gadis itu terlihat sangat senang saat mengetahui bahwa Andra membawanya untuk mampir ke taman terlebih dahulu. Mereka berdua duduk di bangku yang ada pada pinggir taman. Mereka mengobrol dengan cukup lama, dan tentu saja Qirana masih saja merasa tersipu sesekali, tetapi ia sudah tidak peduli dengan bagaimana Andra mungkin akan mengetahui perasaanya. Banyak sekali obrolan – obrolan kecil yang mereka sampaikan, bahkan Andra juga bercerita saat ia tidak masuk sekolah hampir 1 minggu. Ia juga bertanya mengenai Qirana yang datang ke kalasnya dan mencarinya. Gadis itu jelas sangat – sangat tersipu saat mendengar kata – kata Andra itu. “Ahh iya, aku dengar kau pergi ke kelasku dan bertanya mengenai kebradaanku ya? Apa kau merindukanku?” ucap Andra bercanda dengan sedikit tawa kecil yang ia tunjukkan. Kedua pipi gadis itu terlihat mulai merona kembali, tetapi dengan yakin gadis itu menjawab “iya kak, aku memang cukup merindukanmu saat itu.” seketika Andra menghentikan tawa kecilnya dan beralih menatap Qirana, kemudian ia memberikan senyuman tipis, lalu membelai lembut kepala gadis itu, serta setelah itu Andra mengalihkan pandangannya ke samping berlawanan dengan posisi Qirana, dan saat itulah terlihat wajah Andra yang sangat tersipu dan lelaki itu berusaha untuk menyembunyikannya.

Sejak saat itu Qirana semakin berani untuk memulai obrolan terlebih dahulu saat bertemu dengan Andra, ia juga mengikuti beberapa kegiatan sekolah yang terdapat Andra di dalamnya. Usaha yang gadis itu berikan berbuah dengan sangat manis, mereka berdua semakin dekat dan tak jarang pulang bersama setelah sekolah telah usai. Andra tidak pernah sekalipun absen untuk mengantarkan Qirana pulang ke rumah dengan menggunakan sepeda yang ia miliki. Sebenarnya dihati Qirana, ia memiliki keyakinan yang sangat besar bahwa perasaan yang dirasakan oleh Andra adalah perasaan yang sama seperti yang ia rasakan. Semua berjalan dengan lancar dan indah hingga mereka berdua berada di Sekolah Menengah Atas.

Qirana berjuang dengan sangat keras untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian masuk Sekolah Menengah Atas di sekolah favorit yang juga menjadi tempat Andra menuntut ilmu. Ia sadar bahwa ia tidak sepintar Andra, tetapi demi bisa bersekolah di tempat yang sama dengan Andra ia tidak menyerah untuk terus mempelajari materi – materi yang mungkin terasa sangat sulit untuknya. Andra yang mengetahui keinginan dan usaha Qirana pun tidak tinggal diam, ia cukup sering membantu gadis itu mempersiapkan diri untuk ujian nanti. Sikap yang Andra berikan pada Qirana sebenarnya sudah cukup jelas menunjukkan bahwa lelaki itu memiliki perasaan yang sama dengan Qirana.

Hari pertama Qirana di Sekolah Menengah Atas pun dimulai, dan ya kabar baiknya adalah ia berhasil masuk ke sekolah yang sama dengan lelaki pujaannya itu. Ia sangat yakin bahwa hubungannya dengan Andra akan semakin berkembang seiring berjalannya waktu. Apalagi saat ini jarak bukan hal yang bisa memisahkan mereka, karena mereka satu sekolah, dan juga jarak rumah mereka hanya membutuhkan waktu kurang lebih sekitar 15 menit dengan menggunakan motor. Qirana merasa bahwa ia tidak menginginkan lelaki lain untuk mengisi hatinya selain bersama dengan Andra, lelaki asing yang ia temui pertama kali di jalan lewat insiden kecelakaan.

Hubungan yang mereka jalin semakin berkembang, hal itu tentu saja membuat kedua insan tersebut ingin memperkenalkan kepada kedua orang tua mereka. Andra sudah cukup sering bertemu dengan kedua orang tua Qirana, karena hampir setiap hari lelaki itu mengantar jemput Qirana untuk berangkat ke sekolah bersama dan otomatis orang tua Qirana mengenal Andra dengan sangat baik. Berbeda dengan gadis itu yang belum pernah sama sekali bertemu dengan kedua orang tua Andra, dan itu membuatnya sesekali bertanya – tanya pada Andra kira – kira seperti apa ibu dan ayah Andra. Hal tersebut menyadarkan Andra bahwa sudah seharusnya ia memperkenalkan gadis yang juga merupakan seseorang special pada ayah dan ibunya.

Suatu hari saat liburan sekolah datang, bertepatan juga dengan Andra yang akan merayakan tambah usianya. Hal tersebut membuat Andra berfikir bahwa ini adalah waktu yang tepat untuknya memperkenalkan Qirana kepada kedua orang tuanya, sekaligus merayakan ulang tahunnya bersama. Andra mengirimkan pesan kepada Qirana bahwa gadis itu harus segera bersiap – siap, karena Andra akan mengajaknya untuk makan malam sebagai perayaan ulang tahun Andra bersama dengan kedua orang tua Andra. Gadis itu sangat senang ketika mendapat pesan dari Andra yang berbunyi “segeralah bersiap – siap, aku akan menjemputmu 15 menit lagi, ada acara makan malam sebagai perayaan ulang tahunku waktu itu, sekaligus aku ingin memperkenalkanmu dengan kedua orang tuaku.” Ia segera bersiap – siap secantik dan serapi mungkin karena ia berpikir bahwa penampilannya bisa menjadi nilai tambah untuk kedua orang tua Andra. Qirana memutuskan untuk memakai dress sederhana berwarna putih yang terlihat sangat cantik ditubuhnya, ia juga membiarkan rambutnya terurai dengan indah. Setelah ia merasa sudah siap, ia beranjak untuk pergi ke ruang tamu dan menunggu kedatangan Andra.

Tidak membutuhkan waktu lama, mungkin kira – kira sekitar 10 menit gadis itu menunggu kedatangan Andra di ruang tamu yang cukup mewah di rumahnya. Bibi Surti menghampiri Qirana sambil di ikuti oleh Andra di belakangnya. Sekedar informasi, bibi Surti merupakan seorang asisten rumah tangga yang berada di rumah Qirana. Kemudian Andra berpamitan dengan kedua orang tua gadis itu, dan mereka berdua segera melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Andra.

Sesampainya di rumah Andra, rumah yang terlihat sederhana berbeda jauh dengan rumah yang ditinggali oleh Qirana. Gadis itu merasa sangat gugup dan khawatir. “Apa kau gugup?” tanya Andra kepada gadis cantik yang berada tepat disebelahnya itu. “Tentu saja, bagaimana jika ayah dan ibumu tidak memyukaiku?” jawab Qirana sambil menatap kedua mata Andra dan menunjukkan wajah sedihnya. Andra berkata padanya bahwa tidak ada alasan untuk kedua orang tuanya tidak menyukai Qirana. Lelaki itu dengan sangat yakin mengatakan kalimat – kalimat yang membuat Qirana jauh lebih tenang. Qirana dan Andra saling melempar senyuman manis dengan tatapan yang sangat tulus, mereka berdua dengan yakin melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Andra.

Saat pintu rumah terbuka, gadis itu dapat melihat kedua orang tua Andra sudah berada di depannya. Mereka menyambut Qirana dengan sangat ramah, senyuman yang tidak hilang dari wajah kedua orang tua Andra membuat gadis itu yakin bahwa semua berjalan dengan lancar. Qirana dipersilahkan untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu rumah Andra, gadis itu juga banyak mengobrol mengenai hal – hal yang sangat menarik dengan ibu Andra. Andra juga merasa sangat bahagia karena kedua orang tuanya terlihat sangat menyukai Qirana.

Saat Andra dan ayahnya izin keluar sebentar untuk membeli beberapa hidangan makan malam, banyak pertanyaan – pertanyaan yang diajukan oleh ibu Andra kepada Qirana saat mereka hanya berdua saja di rumah tersebut. Beberapa pertanyaan yang diajukan adalah perihal pendidikan, latar belakang keluarga Qirana, dan juga mengenai keyakinan. Gadis itu menjawab semua pertanyaan dengan santai, karena cara ibu Andra mengajukan pertanyaan pun sangat santai dan ramah. Hal itu membuat Qirana merasa nyaman – nyaman saja saat menjawab berbagai pertanyaan tersebut. Qirana tahu benar bahwa cukup banyak perbedaan antara dirinya dan juga Andra, tetapi hal tersebut tidak membuatnya berfikir bahwa itu semua bisa mempengaruhi hubungan mereka berdua. Entah gadis itu yang terlalu lugu atau justru kenyataannya ia sebenarnya tau resiko perbedaan yang ada, namun ia hanya berpura – pura yakin bahwa itu semua tidak akan berpengaruh pada hubungannya dengan Andra.

Setelah Andra mengantarkan gadisnya itu pulang ke rumah dengan selamat, ia segera kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah ia segera melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke kamar. Saat ia membuka pintu kamarnya, ia melihat sang ibu sudah duduk di tepi kasurnya. “Ibu ada apa?” Tanya Andra. Wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunya itu menepuk pelan kasur di samping tempat ia duduk, mengisyaratkan pada Andra untuk duduk di sampingnya. Andra dengan cepat melangkahkan kakinya dan segera duduk di samping ibunya. “Kau sangat menyukai Qirana ya? Ibu memang sudah bisa melihat dengan jelas perasaanmu padanya, namun ibu hanya ingin memastikan perasaanmu langsung dari dirimu.” Ucap ibu Andra. Sebenarnya itu bukan pertanyaan menakutkan atau pertanyaan yang sulit untuk dijawab, namun entah mengapa saat mendengar pertanyaan tersebut ia merasa bahwa semuanya tidak akan berjalan dengan baik. “Tentu saja aku menyukainya”. Aku tau mungkin pernyataanku ini terasa tidak nyata karena usiaku yang tergolong belum dewasa. Namun aku sangat yakin bu, aku sangat yakin dengan perasaanku.” Jawab Andra. Wanita paruh baya itu menggenggam tangan anak semata wayangnya itu dengan sangat lembut. “Perbedaan yang ada pada kalian berdua sangat besar dan beresiko. Ibu pernah bilang padamu bukan? bahwa kau harus memperhatikan hal itu. Ibu juga tidak ingin mematahkan hatimu, namun menurut Ibu, kau tidak bisa menjadi egois untuk masalah kali ini. Percayalah, Ibu hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua.”

Andra yang mendengar semua penjelasan dari sang ibu hanya dapat tersenyum masam sambil berkata “baiklah Bu”. Ibu Andra tersenyum dan berkata “apapun keputusanmu, Ibu akan selalu ada di sisimu.” Ibu Andra mengusap lembut belakang kepala lelaki itu, dan meninggalkan Andra sendirian di kamar. Tepat setelah sang Ibu keluar dari kamar, saat itulah air mata yang sedari tadi ia bending akhirnya jatuh juga. Ternyata anggapan bahwa semuanya berjalan dengan baik adalah kesalahan, sebelumnya ia tidak pernah berfikir terlalu jauh mengenai perbedaan antara dirinya dan juga Qirana, hingga sampai saat ini akhirnya ia berfikir bahwa perkataan ibunya tidaklah salah.

Sejak hari itu Qirana sering sekali mendapati Andra yang melamun sendirian seakan – akan sedang banyak hal yang lelaki itu pikirkan sendirian. Ia juga beberapa kali bertanya pada Andra mengenai hal berat apa yang sedang ia pikirkan, namun Andra selalu berkata “bukan apa – apa, aku hanya sedang memikirkan universitas mana saja yang akan aku pilih.” Qirana tahu bahwa apa yang dikatakan Andra adalah bohong, tetapi percuma saja sebanyak apapun gadis itu bertanya jawabannya akan tetap sama. Qirana merasa bahwa perubahan sikap Andra adalah setelah hari kedatangannya ke rumah Andra, tetapi ia bingung apa yang membuatnya seperti itu karena menurutnya saat itu berjalan dengan lancar. Respon dari kedua orang tua Andra juga sangat baik. Gadis itu lagi – lagi berusaha untuk berfikir positif dengan semua yang terjadi.

Satu tahun pun berlalu, Andra saat ini sedang sibuk mempersiapkan ujian masuk universitas, entah apa yang dipikirkan oleh lelaki itu. Sejak obrolan dengan ibunya waktu itu, Andra menjadi semakin ambisius dalam mencapai mimpinya. Berbeda dengan Qirana yang masih dengan setia menunggu kejelasan mengenai hubungannya bersama dengan lelaki itu. Ada harapan besar dihatinya jika saat setelah ia bertemu dengan ayah dan ibu Andra maka lelaki itu akan segera memperjelas hubungan mereka, namun lagi – lagi itu hanyalah sebuah harapan kosong yang tidak terwujud, bahkan sudah selama ini. Pikiran – pikiran positif yang berusaha ia buat sudah tidak bisa lagi memenuhi pikirannya. Pernah di suatu hari ia dengan yakin memutuskan untuk berhenti menemui Andra, namun ia terlalu lemah untuk bisa jauh dari semua perhatian dan pesona Andra yang sudah melekat dalam benaknya. Tentu saja hal itu membuat gadis itu bimbang dan menarik kembali keputusannya. Namun sampai kapan ia bisa bertahan dengan hubungan yang tidak jelas? Bahkan ia tidak bisa dengan bangga berkata pada orang – orang jika Andra adalah kekasihnya, karena kenyataan berkata bahwa mereka bukanlah sepasang kekasih. Mereka hanyalah dua insan yang saling dekat tanpa status apapun, dan bodohnya Qirana masih bertahan tanpa mengetahui alasan yang jelas dari semua ketidak jelasan hubungannya itu.

Ada di suatu waktu dimana seorang lelaki tampan mencoba untuk mendekati Qirana disaat ia sedang lelah menunggu kejelasan yang tak kunjung diberikan oleh Andra. Mungkin saja lelaki tersebut jauh lebih dapat memberikan kejelasan yang diinginkan oleh Qirana dari pada Andra. Namun gadis itu bisa apa? perasaan terlanjur sayang yang begitu besar tidak bisa membuatnya berpaling kepada lelaki manapun.

Ada cerita saat Qirana baru saja meminta kepastian kepada Andra mengenai hubungan mereka berdua, tetapi Andra belum juga bisa memperjelas hubungan mereka berdua, dan di saat itulah Qirana sempat menerima ajakan kencan lelaki lain tepat di depan Andra. Saat itu Qirana melakukan hal tersebut karena mungkin ia sudah terlalu lelah dengan apa yang ia tunggu tanpa memikirkan apa yang sedang Andra perjuangkan. “Hei, malam ini apakah kau memiliki waktu luang? Aku ingin mengajakmu ke suatu restoran yang baru saja buka, tempatnya sangat indah dan makanannya terkenal sangat enak.” Kata Bima. Bima adalah salah satu lelaki yang juga jatuh hati pada Qirana sejak dahulu. Lelaki itu masih berusaha mengejar Qirana walaupun sebenarnya ia tahu bahwa Qirana memiliki perasaan spesial pada Andra. Bagi Bima, selagi status mereka berdua belum jelas, maka tanpa malu ia akan terus mengejar Qirana.

Qirana yang saat itu sedikit terkejut dengan ajakan Bima yang cukup tiba – tiba, terlebih juga di sana ada Andra, bahkan lelaki yang ia cintai itu berada tepat di sampingnya. Tanpa menoleh ke arah Andra, dengan sangat yakin ia menerima ajakan dari Bima “baiklah, kau tau rumahku kan? nanti kabari saja jika kau akan menjemputku.” Dengan perasaan senang Bima mengangguk dan meninggalkan mereka berdua. Andra menoleh ke arah Qirana dengan tatapan sendu namun masih berusaha untuk tersenyum, ia berkata “jangan lupa jaketmu saat keluar nanti, jangan pulang terlalu malam, hubungi aku setelah kau sudah sampai di rumah.” Lalu Andra menepuk lembut puncak kepala Qirana dengan penuh kasih sayang.

Malam hari pun tiba, Qirana tetap melanjutkan niatnya yaitu untuk keluar bersama dengan Bima, terlebih lagi ia juga sudah berjanji kepada Bima. Ia sengaja mengenakan dress berwana putih tulang pemberian dari Andra. Ia memiliki pikiran bahwa mungkin saja ini jalan untuk melupakan Andra dan tidak menutup kemungkinan juga ia bisa tiba – tiba merubah perasaannya begitu saja dan menaruh hari kepada Bima.

Bima menjemput Qirana dengan menggunakan mobil sedan berwarna hitam, penampilan Bima juga terlihat sangat tampan dan mempesona. Qirana pun juga sempat terpukau dengan penampilan Bima yang terlihat sangat penuh dengan persiapan. Mereka berdua menikmati hidangan yang terlihat sangat lezat dan juga keindahan pemandangan di restoran tersebut. Restoran tersebut terlihat sangat mewah, serta nuansa romantis juga memenuhi tempat tersebut. Qirana tidak henti memandangi sekitarnya yang penuh dengan sepasang kekasih yang terlihat sangat bahagia. Ia membayangkan andai saja orang yang bersama dengannya saat ini adalah Andra, tapi bahkan hingga saat ini ia belum pernah sekalipun dinner romantis berdua seperti ini bersama dengan Andra.

Gadis itu berusaha terlihat bahagia dan menikmati waktu bersama dengan pria di hadapannya, namun bagaimanapun ia berusaha tetap saja yang memenuhi pikirannya saat ini hanyalah Andra. Ia merasa bahwa waktu bersama dengan Bima terasa berjalan sangat lambat dan melelahkan. Bima terlihat sangat berusaha untuk membuat gadis dihadapannya tersenyum bahagia, namun ia juga sadar bahwa kehadirannya berbeda dengan kehadiran pria yang dicintai Qirana.

Setelah makan malam usai, Bima mempersilahkan Qirana untuk masuk ke dalam mobil, namun Qirana menggelengkan kepalanya sambil berkata “kita pisah di sini saja ya? Aku butuh waktu sendiri untuk memikirkan sesuatu. Aku juga sangat berterimakasih dengan semua yang kau berikan hari ini, aku senang hari ini.” Bima tersenyum dengan perkataan Qirana, tanpa menolak atau berusaha menahan Qirana sedikitpun, ia berkata “kabari aku jika terjadi sesuatu, hati – hati dijalan, dan terimakasih juga untuk hari ini.”

Qirana berjalan sendirian di taman dekat rumahnya, setelah beberapa menit akhirnya ia memutuskan untuk duduk di salah satu bangku yang ada di taman tersebut. Ia memandangi langit gelap sendirian sambil memikirkan entah bagaimana hubungannya akan berjalan nantinya bersama dengan Andra, hingga air mata pun terjatuh dengan sendirinya dari kedua mata gadis cantik itu. Kesedihan memenuhi hati dan pikiran gadis itu, hingga dari belakang seseorang tiba – tiba memasangkan jaket yang cukup tebal pada tubuh gadis itu. Tanpa menoleh pun Qirana sudah bisa menebak siapa seseorang yang menghampirinya, wangi parfum pria yang sangat ia cintai tercium dengan sangat jelas dari jaket yang saat ini terpasang di tubuhnya. Tanpa menoleh ia dapat merasakan bahwa pria itu duduk di sampingnya sambil ikut memandangi langit bersama dengannya.

“Sedang apa kau disini?” Tanya Qirana dengan wajahnya yang masih sendu. “Karena aku memiliki feeling bahwa ada gadis keras kepala yang duduk sendirian di taman tanpa menggunakan jaket di cuaca yang sedang berangin seperti ini.” jawab Andra yang saat ini sudah menolehkan wajahnya ke arah Qirana. “Aku membencimu, aku sangat membencimu.” Kata gadis itu sambil melanjutkan tangisannya. Andra tersenyum tipis dan mendekap erat tubuh Qirana ke dalam pelukannya tanpa mengatakan sepatah katapun.

Waktu berjalan dengan cepat, dan Andra pun sudah menjadi mahasiswa baru yang cukup sibuk, sedangkan Qirana juga disibukkan dengan persiapan ujian masuk universitas yang akan datang. Kesibukan yang mereka berdua jalani tidak membuat komunikasi antar keduanya terputus maupun membuat hubungannya merenggang. Mereka berdua berusaha keras untuk menyempatkan waktu agar dapat menghabiskan waktu bersama. Qirana juga memiliki keinginan yang cukup kuat untuk dapat masuk dan berkuliah di universitas yang sama dengan Andra. Keinginan kuatnya membuat gadis itu jarang lepas dari buku – buku yang ia pegang. Setiap hari ia duduk terjaga di kursi meja belajarnya untuk mengerjakan berbagai latihan soal untuk persiapan ujian masuk universitas, bahkan ia yang sebelumnya selalu tidur tepat waktu sebelum pukul 10 malam mendadak terjaga hingga hampir tengah malam. Semua perjuangan itu tak lain adalah agar ia bisa lebih sering bertemu dengan lelaki yang sangat ia cintai.

2 bulan sejak Andra menjadi mahasiswa baru di universitas itu pun berjalan dengan cukup lancar, namun beberapa konflik kesalapahaman terjadi padanya dan juga Qirana. Hubungan yang awalnya terlihat sangat harmonis mendadak jadi dingin dan penuh dengan berdebatan. Semuanya berawal dari kegiatan organisasi yang Andra ikuti, saat itu di dalam oraganisasi tersebut Andra berada di satu divisi yang sama dengan seorang gadis se-angkatannya. Dengan begitu hal tersebut mengharuskan Andra untuk terus bertemu gadis itu dan tak jarang juga mereka berdua menghabiskan waktu berdua di luar kampus untuk sekedar berdiskusi. Awalnya memang Andra meminta izin pada Qirana, tetapi karena sadar bahwa Qirana agak terganggu dengan izin yang ia minta maka Andra pun memutuskan untuk berhenti meminta izin pada Qirana. Hal tersebut sebenarnya juga demi kebaikan hubungannya menurut Andra, namun siapa sangka disuatu ketika Qirana melihat sendiri dengan kedua matanya bahwa lelaki yang sangat ia cintai itu sedang berduaan bersama gadis lain di suatu restoran yang cukup romantis.

Gadis yang selalu bersama dengan Andra di kampus bernama Sara, awalnya gadis itu tidak terlihat mencurigakan namun seiring berjalannya waktu ia mulai menunjukkan sikap yang tidak biasa kepada Andra, ya bisa dibilang seperti seorang gadis yang tergila – gila dengan lelaki yang sudah ia targetkan untuk menjadi kekasihnya. Bisa dipastikan Andra hanya menghubungi dan menghabiskan waktu bersama Sara hanya untuk membahas hal – hal yang bersangkutan dengan organisasi, karena ia tidak ingin dipandang sebagai seseorang yang tidak bertanggung jawab hanya karena permasalahan pribadi. Ia juga tidak memiliki pikiran untuk melirik ataupun tertarik dengan gadis lainnya. Andra sadar bahwa perasaan sayangnya pada Qirana sangatlah besar dan ia merasa bahwa hanya Qirana satu – satunya gadis yang ia inginkan nanti setelah semua cita-citanya tercapai.

Suatu ketika saat Qirana baru saja selesai mengikuti kelas bimbel, dan saat itu ia dan juga teman – temannya memutuskan untuk berkunjung ke salah satu restoran terkenal dengan nuansa romantis dan memiliki pemandangan yang indah pada malam hari. Saat awal ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran tersebut, yang ada di pikirannya adalah “aku harus mengunjungi restoran ini berdua dengan Andra, pasti akan sangat romantis.” Beberapa langkah menuju kursi yang sudah ia pesan sebelumnya, ia tanpa sengaja melihat seorang lelaki yang tidak asing berada di sudut meja bersama dengan seorang gadis dan terlihat sedang tertawa bersama. Terkejut? Tentu saja. Qirana tanpa basa basi segera menghampiri meja tersebut, dan ya lelaki yang sudah ia duga adalah Andra terlihat sangat terkejut dengan kehadiran Qirana. “Kau kesini dengan siapa? kenapa tidak bilang?” itu adalah pertanyan pertama yang diajukan Andra setelah melihat Qirana. Tanpa mengatakan apapun, Qirana hanya memberikan kode agar Andra ikut keluar dari restoran itu bersama dengannya. Namun Sara yang sadar dengan gerak gerik Andra yang akan berdiri meninggalkan tempat itu segera mencegah Andra sambil berkata “tunggu!! Memangnya kau siapa? Kau pacar Andra? Kami berdua kesini untuk makan malam dan kau tidak bisa se-enaknya bersikap seperti itu, jika kau kekasihnya sudah pasti Andra berkata padamu terlebih dahulu mengenai rencana kami berdua yang akan makan malam di restoran ini.” kata Sara dengan tegas.

Qirana yang saat itu mendengarkan perkataan Sara juga tidak bisa berbuat apa – apa untuk menepis perkataan itu. Semua yang Sara katakan adalah kebenaran, Qirana bukanlah kekasih dari Andra, dan mereka berdua hanya sepasang insan yang saling menyayangi tanpa kejelasan hubungan apapun. Qirana segera meninggalkan tempat itu dengan langkah kaki yang sangat cepat, ia juga dengan cepat berpamitan dengan teman – temannya. Andra bergegas menyusul gadisnya itu tanpa memedulikan semua yang Sara katakan, dengan cepat ia menarik pergelangan tangan Qirana untuk membuat gadis itu menghentikan langkahnya. “Aku tau aku salah karena tidak mengatakan apapun padamu, harusnya aku izin dulu dan berkata yang sejujurnya. Namun aku hanya tidak ingin kau jadi kepikiran dan akan mengganggu konsentrasimu dalam persiapan ujian. Aku hanya kemari karena kami berdua baru selesai membahas mengenai organisasi dan kebetulan dia berkata bahwa perutnya sangat sakit karena belum makan dari tadi siang. Aku hanya merasa tidak enak dan akhirnya menuruti kemauannya. Hanya sebatas itu percayalah padaku kumohon.” Jelas Andra dengan nada yang lembut dan mencoba sesantai mungkin. Qirana meneteskan air matanya dan membalas perkataan Andra “kak, sebenarnya yang membuat hatiku jauh lebih sakit adalah ketika aku tidak bisa mengelak semua pertanyaan yang gadis itu sampaikan. Semua perkataannya benar, aku bukanlah siapa – siapamu dan aku tidak berhak bersikap seperti tadi.” Saat itu Andra merasa bahwa sikap gadis di hadapannya berbeda dari sebelumnya, Qirana terlihat benar – benar hancur dan terluka. “Kau memang bukan kekasihku, namun kau lebih dari itu untukku. Kau adalah seseorang yang sangat aku kasihi, bahkan perasaanku padamu tidak sebanding dengan status yang kau maksud.” Ucap Andra dalam hati sambil berusaha menenangkan gadis di hadapannya itu. Dengan senyuman masam Qirana berkata “Aapa salahnya untuk memperjelas hubungan kita jika kau memang memiliki tujuan yang jelas bersamaku nantinya. Apa karena perbedaan besar antara kita berdua yang bahkan untukku itu bukanlah suatu masalah, tetapi kau terus goyah dan selalu menghindariku mengenai status yang kita miliki. Kenapa kau tidak melepaskanku saja? Kau justru dengan tega membuatku bertahan dan merasakan luka yang mungkin kau anggap sepele. Aku mungkin akan jauh lebih terluka, namun setidaknya luka itu akan membaik. Aku berhenti! Aku lelah dan aku yang akan melepaskanmu saat ini juga.” Ucap Qirana dengan air mata yang terus menetes dengan deras. Ia dengan cepat melangkahkan kakinya meninggalkan Andra yang hanya terdiam dan juga terlihat meneteskan air mata dari kedua matanya yang terus menatap kepergian Qirana dengan sendu. Andra sangat yakin bahwa perkataan gadisnya kali ini benar – benar serius dan bulat.

Sejak hari itu Andra memang berusaha menghubungi Qirana, namun gadis itu berusaha sebisa mungkin untuk mengabaikan semua pesan maupun panggilan telepon dari lelaki itu. Hingga suatu ketika Andra memutuskan untuk menghampi Qirana di rumahnya, namun hal itu juga sia – sia karena dengan senyuman yang terlukis di wajah Qirana ia berkata “aku tidak pernah menyesali bertemu denganmu, banyak sekali kebahagiaan yang kau berikan untukku. Hanya saja gadismu ini sudah sangat lelah dan membuat keputusan yang menurutnya baik untuknya dan juga untukmu. Aku tau beratnya di posisimu untuk memikirkan hubungan kita berdua yang sangat sulit, jadi aku mohon berhentilah! Bukan hanya untukku, tetapi juga untukmu, jangan membuat dirimu harus memilih sesuatu yang memang tidak akan pernah bisa untuk dipilih. Mari hidup dengan menemukan kebahagiaan masing – masing. Kisah kita akan selalu menjadi kisah indah yang akan tersimpan rapi di memoriku. Kak Andra.”

Dua tahun berlalu, kisah cinta Andra dan Qirana pun juga telah usai, dan mungkin akan berlanjut dengan kisah masing – masing dari keduanya. Qirana juga memutuskan untuk memulai kuliah di universitas yang ada di luar kota, dengan begitu ia benar – benar putus kontak dan tidak pernah bertemu dengan lelaki itu lagi.

Qirana berjalan seorang diri di sebuah taman yang dipenuhi dengan rumput – rumput hijau yang sangat membantu memberikannya udara segar. Ia duduk di salah satu kursi panjang yang ada di taman dengan terus memandangi beberapa anak kecil bersama dengan kedua orang tua anak tersebut, mereka terlihat sangat bahagia dan harmonis. Pandangannya yang terlalu fokus pada satu titik itu membuatnya tidak menyadari bahwa ada seorang lelaki yang berjalan ke arahnya dan duduk tepat di sampingnya sambil berkata “dahulu, bahkan hingga sampai saat ini aku sering membayangkan, dapat membangun keluarga harmonis seperti itu bersamamu kelak… (Tamat/CH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jasa Pembuatan Lagu CHproduction

Mulai pemasaran digital pada tahun 2020 dan sudah melayani banyak klien dari tingkat nasional sampai internasional. Berkantor pusat di kota Jogja dengan mayoritas klien dari kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya. Silahkan kunjungi media sosial kami di bawah ini, untuk info lengkap hubungi kami
HP Admin : 082130532532

Supported by