Logo Jasa Pembuatan Lagu

Jasa Pembuatan Lagu

from djogja with love

From Djogja with Love (Cerpen)

Kereta yang kutumpangi melambat saat memasuki Stasiun Tugu Djogja.

Aku memandang keluar jendela. Kota ini masih sama. Udara pagi yang hangat, aroma khas yang tak pernah bisa kutemukan di kota lain, dan perasaan aneh yang selama sepuluh tahun terakhir selalu berusaha kuhindari.

Djogja.

Kota tempat aku bertemu cinta pertamaku.

Kota tempat aku kehilangan dia.

Namaku Siska.

Dan aku pulang untuk mengucapkan selamat tinggal.


Tahun 1992.

Usiaku sembilan belas tahun saat pertama kali menginjakkan kaki di University of Djogja.

Aku gadis Jayakarta yang pemalu dan tak banyak bicara. Semuanya terasa asing saat itu.

Hari pertama orientasi mahasiswa, aku tersesat mencari ruang kuliah.

Di situlah aku bertemu Ciko.

“Adek baru ya?” tanyanya sambil tersenyum.

Aku mengangguk gugup.

“Lihat peta kampus terbalik begitu memang cepat sampai?”

Aku menunduk dan baru sadar kertas yang kupegang memang terbalik.

Dia tertawa.

Bukan tertawa mengejek.

Tapi tertawa yang membuat orang lain ikut tersenyum.

“Itu jurusan Ekonomi di sebelah sana. Kalau mau nyasar lagi, bilang saja.”

Sejak hari itu, Ciko seperti selalu muncul di setiap sudut kampus.

Di perpustakaan.

Di kantin.

Di depan kelas.

Bahkan kadang di halte bus.

Awalnya aku menganggap itu kebetulan.

Belakangan aku tahu, ternyata dia memang sengaja mencariku.


Ciko berbeda dari laki-laki lain.

Dia dewasa untuk usianya.

Selalu tahu apa yang harus dilakukan.

Tapi di balik itu, dia juga sangat jahil.

Pernah suatu hari dia menyembunyikan catatan kuliahku.

Aku hampir menangis mencarinya.

Sampai akhirnya dia menyerahkan buku itu sambil membawa es teh.

“Aku cuma mau lihat kalau kamu marah ternyata lucu juga.”

Sejak saat itu aku benar-benar marah.

Dan entah bagaimana, sore harinya kami resmi berpacaran.

Cepat sekali memang.

Tapi begitulah cinta pertama.

Kadang datang tanpa meminta izin.


Tahun-tahun berikutnya terasa seperti halaman-halaman indah yang berlalu terlalu cepat.

Kami sering berjalan menyusuri Malioboro pada malam hari.

Naik becak tanpa tujuan.

Duduk di angkringan hingga larut malam.

Membicarakan masa depan yang terasa begitu dekat.

Di bawah Tugu Djogja, Ciko pernah berkata,

“Kalau nanti kita tua, aku tetap mau jalan sama kamu di sini.”

Aku tersipu.

“Kita kan belum tua.”

“Iya. Makanya latihan dulu.”


Tempat favorit kami adalah Pantai Parangtritis.

Kami sering duduk berjam-jam memandangi ombak.

Ciko selalu punya kebiasaan menggambar garis di pasir.

“Kalau ombak menghapus ini, berarti kita harus pulang.”

Biasanya ombak datang cepat.

Tapi hari itu tidak.

Garis itu bertahan lama.

Sangat lama.

Dan kami duduk di sana sampai matahari tenggelam.


Setelah lulus kuliah, hidup berjalan sesuai rencana.

Atau setidaknya kami mengira begitu.

Tahun 1999, kami menikah.

Pernikahan sederhana.

Tidak mewah.

Tapi penuh tawa.

Saat aku berjalan menuju pelaminan, Ciko berbisik,

“Akhirnya kamu nggak bisa kabur lagi.”

Aku tertawa sambil menahan air mata bahagia.

Hari itu adalah hari paling indah dalam hidupku.

Aku tidak tahu bahwa kebahagiaan itu hanya akan bertahan satu tahun.


Awalnya hanya keluhan kecil.

Mudah lelah.

Sesak sesekali.

Lalu pemeriksaan demi pemeriksaan.

Hingga akhirnya serangan jantung itu datang tanpa peringatan.

Terlalu cepat.

Terlalu mendadak.

Terlalu kejam.

Aku masih ingat malam terakhir di rumah sakit.

Tangannya dingin.

Tapi senyumnya tetap sama.

Senyum yang pertama kali membuatku jatuh cinta.

“Sis…”

Aku menggenggam tangannya erat.

“Aku di sini.”

“Kalau nanti aku pergi duluan…”

“Jangan bicara begitu.”

Dia tersenyum kecil.

“…kamu harus tetap hidup.”

Itu kalimat terakhir yang kudengar darinya.


Setelah pemakaman, Djogja berubah.

Semua tempat yang dulu indah menjadi menyakitkan.

Aku tak sanggup tinggal.

Akhirnya aku kembali ke Jayakarta.

Berusaha memulai hidup baru.


Tahun demi tahun berlalu.

Satu.

Dua.

Lima.

Sepuluh tahun.

Ada beberapa pria yang mencoba mendekat.

Pria baik.

Pria dewasa.

Pria yang tulus.

Tapi setiap kali aku mencoba membuka hati, bayangan Ciko selalu datang.

Dalam tawa mereka.

Dalam cara mereka berjalan.

Dalam lagu yang mereka sukai.

Tak ada yang salah dengan mereka.

Hanya saja mereka bukan Ciko.

Dan aku selalu mundur sebelum semuanya dimulai.


Sampai akhirnya aku sadar.

Yang mengikatku bukan cinta.

Melainkan kenangan yang belum pernah kulepaskan.

Karena itulah aku kembali ke Djogja.


Selama tiga hari aku mengunjungi semua tempat yang pernah kami datangi.

Malioboro.

Aku berjalan sendirian di trotoar yang dulu kami lalui bersama.

Tugu Djogja.

Aku berdiri di tempat yang sama saat Ciko bercanda tentang masa tua kami.

Angkringan kecil yang masih berdiri.

Kampus lama yang kini terasa lebih kecil dari ingatanku.

Taman Wisata Kaliurang.

Dan lereng Gunung Merapi yang dulu pernah kami kunjungi saat liburan mahasiswa.

Setiap tempat menyimpan satu bagian dari dirinya.

Dan satu bagian dari diriku.


Hari terakhir, aku kembali ke Pantai Parangtritis.

Matahari mulai turun.

Persis seperti dulu.

Aku duduk di pasir dan memandang lautan.

Lama.

Sangat lama.

Kemudian aku berbicara pelan.

Seolah Ciko duduk di sampingku.

“Aku capek, Ko…”

Angin laut berhembus lembut.

“Aku sudah mencoba mempertahankan semuanya selama sepuluh tahun.”

Air mataku jatuh.

“Tapi aku rasa sudah waktunya.”

Aku tersenyum kecil.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun.

“Bukan karena aku melupakanmu.”

“Bukan karena aku berhenti mencintaimu.”

“Tapi karena aku ingin memenuhi janjiku.”

Aku teringat malam terakhir di rumah sakit.

Kamu harus tetap hidup.

Aku menarik napas panjang.

“Aku akan hidup, Ko.”

“Aku akan mencoba bahagia lagi.”

“Aku akan membuka hatiku lagi.”

Dan saat itu terjadi sesuatu yang aneh.

Bukan suara.

Bukan penampakan.

Hanya perasaan hangat yang tiba-tiba memenuhi dadaku.

Perasaan yang sangat kukenal.

Seperti pelukan yang pernah menemaniku bertahun-tahun.

Aku menutup mata.

Dan untuk sesaat, aku bisa membayangkan senyum jahilnya.

Senyum yang sama seperti hari pertama kami bertemu.

Seolah dia sedang berkata,

“Akhirnya.”

Aku tertawa kecil di tengah air mata.

“Lihat? Kamu masih saja menang.”

Ombak datang perlahan.

Menghapus jejak kakiku di pasir.

Sama seperti dulu menghapus garis-garis yang dibuatnya.

Aku berdiri.

Memandang matahari yang tenggelam di cakrawala.

Lalu berbisik pelan.

“Terima kasih untuk semuanya.”

“Selamat tinggal, cinta pertamaku.”

“Dan sampai bertemu lagi.”

Angin laut membawa bisikanku pergi.

Entah ke mana.

Mungkin ke langit.

Mungkin ke keabadian.

Atau mungkin…

kepada seseorang yang selama ini telah merelakanku pergi.

Dan untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun,

aku melangkah meninggalkan pantai itu tanpa menoleh ke belakang.

Karena akhirnya aku mengerti.

Melepaskan bukan berarti berhenti mencintai.

Terkadang, melepaskan adalah bentuk cinta yang paling tulus.


Dengerin lagunya “from djogja with love” dengan cara klik link di bawah ini :

https://youtu.be/YUxEVyqBOo8?si=fXKwpxbaOLxbYZcv

 

Cerpen ini ditulis oleh Tim Jasa Pembuatan Lagu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jasa Pembuatan Lagu CHproduction

Mulai pemasaran digital pada tahun 2020 dan sudah melayani banyak klien dari tingkat nasional sampai internasional. Berkantor pusat di kota Jogja dengan mayoritas klien dari kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya. Silahkan kunjungi media sosial kami di bawah ini, untuk info lengkap hubungi kami
HP Admin : 082130532532

Supported by