Tidak ada yang istimewa dari pagi itu.
Matahari terbit seperti biasanya. Burung-burung hinggap di pagar rumah kecil yang mulai dimakan usia. Di teras depan, sebuah pot bunga melati masih setia mengeluarkan harum yang sama seperti dua puluh lima tahun lalu, ketika rumah itu baru berdiri dengan dinding yang belum sepenuhnya diplester.
Indra duduk sendirian.
Di tangannya ada secangkir kopi yang mulai dingin.
Pandangannya tidak tertuju ke jalan, melainkan pada sosok perempuan yang sedang menyapu halaman.
Perempuan itu mengenakan daster sederhana berwarna biru muda. Rambutnya kini tak lagi hitam seluruhnya. Beberapa helai putih mulai muncul di sela-selanya.
Namun di mata Indra…
Ia masih perempuan yang sama.
Perempuan yang pernah membuatnya gugup hanya karena sebuah senyum.
Perempuan yang pernah percaya pada laki-laki yang bahkan belum memiliki apa-apa.
Namanya…
Susi.
Dua puluh lima tahun sebelumnya…
Indra hanya seorang pemuda dengan mimpi yang jauh lebih besar daripada isi dompetnya.
Ia tidak memiliki mobil.
Tidak memiliki rumah.
Tidak memiliki pekerjaan yang benar-benar mapan.
Yang ia miliki hanya keberanian berkata,
“Kalau suatu hari aku berhasil… aku ingin berhasil bersamamu.”
Kalimat itu terdengar terlalu sederhana.
Bahkan mungkin terlalu nekat.
Namun entah mengapa…
Susi percaya.
Bukan kepada keadaan.
Melainkan kepada orang yang mengucapkannya.
Hari-hari setelah pernikahan bukanlah kisah seperti dalam film.
Tidak ada rumah mewah.
Tidak ada liburan ke luar negeri.
Tidak ada makan malam romantis di restoran mahal.
Yang ada hanyalah kontrakan sempit.
Kipas angin yang lebih sering berisik daripada berputar.
Kasur tipis.
Kompor minyak.
Dan daftar tagihan yang selalu terasa lebih panjang daripada daftar penghasilan.
Namun setiap malam…
Susi selalu berkata,
“Besok pasti lebih baik.”
Kalimat yang sama.
Diucapkan berkali-kali.
Selama bertahun-tahun.
Saat anak pertama lahir…
Indra menangis.
Bukan karena bahagia semata.
Melainkan karena takut.
Takut tidak mampu menjadi ayah yang baik.
Takut tidak sanggup memberi kehidupan yang layak.
Takut mengecewakan keluarga kecil yang baru saja ia bangun.
Susi hanya menggenggam tangannya.
“Kita belajar sama-sama.”
Empat kata.
Sesederhana itu.
Namun sejak hari itu…
Indra merasa tidak pernah berjalan sendirian lagi.
Tahun-tahun berganti.
Anak pertama tumbuh.
Lalu lahirlah anak kedua.
Beberapa tahun kemudian…
Anak ketiga melengkapi kebahagiaan mereka.
Rumah kecil itu kini dipenuhi suara tawa.
Tangisan.
Mainan berserakan.
Sepatu sekolah yang berjejer di depan pintu.
Bekas coretan pensil warna di dinding.
Dan aroma masakan sederhana yang entah mengapa…
selalu terasa lebih enak daripada makanan restoran mana pun.
Namun hidup…
Tidak pernah benar-benar mudah.
Ada masa ketika usaha yang dibangun Indra hampir berhenti.
Ada masa ketika uang di dompet hanya cukup sampai akhir pekan.
Ada masa ketika mereka harus menghitung setiap lembar uang sebelum pergi ke pasar.
Suatu malam…
Indra terbangun.
Ia melihat Susi sedang duduk di ruang tamu.
Lampu dimatikan.
Hanya cahaya bulan yang masuk dari jendela.
Di tangannya…
Ada buku catatan pengeluaran.
Perempuan itu sedang menghapus beberapa daftar belanja.
Bukan karena tidak dibutuhkan.
Melainkan karena uangnya tidak cukup.
Susi tidak menangis.
Ia hanya menarik napas panjang.
Lalu tersenyum kecil saat mendengar langkah kaki suaminya.
“Aku cuma lagi menghitung.”
Padahal…
Yang sedang ia hitung bukan angka.
Melainkan cara agar keluarganya tetap bisa bertahan.
Sejak malam itu…
Indra mulai memperhatikan sesuatu.
Susi selalu menjadi orang terakhir yang membeli pakaian baru.
Ia lebih dulu membeli seragam sekolah anak-anak.
Lebih dulu membayar buku.
Lebih dulu membeli sepatu.
Lebih dulu memastikan semua orang cukup makan.
Barulah jika masih ada sisa…
Ia membeli sesuatu untuk dirinya.
Sering kali…
Tidak ada sisanya.
Waktu berjalan begitu cepat.
Tanpa mereka sadari…
Tiga anak kecil yang dulu berebut dipangku kini telah tumbuh menjadi pemuda dan remaja yang tampan dan cantik.
Masing-masing mulai mengejar impiannya sendiri.
Rumah yang dulu riuh…
perlahan mulai sunyi.
Kini hanya tinggal suara jam dinding.
Dan dua orang yang masih saling menemani.
Suatu sore…
Anak bungsu bertanya,
“Pak…”
“Ibu pernah minta hadiah paling mahal nggak?”
Indra tersenyum.
“Lima belas ribu.”
“Lho?”
“Dulu… ibu cuma minta dibelikan bakso.”
“Itu saja?”
“Iya.”
“Lalu Bapak belikan?”
Indra tertawa pelan.
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Karena uang Bapak waktu itu cuma cukup buat ongkos pulang.”
Anak-anak ikut tertawa.
Namun tidak ada yang melihat…
Susi diam-diam menyeka sudut matanya.
Beberapa bulan kemudian…
Hari itu tiba.
Tepat dua puluh lima tahun usia pernikahan mereka.
Anak-anak sibuk menyiapkan kejutan.
Rumah dihias sederhana.
Tidak ada pesta besar.
Tidak ada dekorasi mewah.
Hanya keluarga.
Tawa.
Pelukan.
Dan doa.
Salah satu anak berkata,
“Pak… sekarang giliran Bapak kasih hadiah.”
Indra mengangguk.
“Ayah memang sudah menyiapkannya.”
Ia mengambil sebuah kotak kecil.
Semua mengira isinya cincin.
Kalung.
Atau perhiasan.
Namun ketika kotak itu dibuka…
Yang terlihat hanyalah sebuah flashdisk.
Anak-anak saling berpandangan.
Susi pun tersenyum bingung.
“Apa ini?”
Indra menggenggam tangan istrinya.
Suasana mendadak hening.
Lalu televisi di ruang keluarga menyala.
Bukan menampilkan foto.
Bukan video.
Melainkan sebuah sampul lagu.
Judulnya…
“Lagu Untuk Susi.”
Ruangan menjadi sunyi.
Nada pertama mulai terdengar.
Satu demi satu lirik mengalun.
Tentang perempuan yang selalu memilih bertahan.
Tentang istri yang lebih sering mendahulukan keluarga daripada dirinya sendiri.
Tentang ibu yang diam-diam menyembunyikan lelah agar anak-anak tetap tersenyum.
Tentang cinta…
yang tidak pernah meminta balasan.
Baru saat itulah…
Susi menyadari.
Selama beberapa bulan terakhir, ketika Indra sering pulang larut malam dengan alasan pekerjaan…
ternyata ia sedang diam-diam menulis lagu.
Mengumpulkan kenangan.
Mengubah air mata menjadi lirik.
Mengubah rasa syukur menjadi melodi.
Mengubah dua puluh lima tahun perjalanan hidup mereka…
menjadi sebuah karya yang bisa dikenang selamanya.
Tak seorang pun berbicara.
Air mata jatuh tanpa suara.
Ketiga anak mereka memeluk ibunya.
Indra hanya menatap perempuan yang telah berjalan bersamanya selama seperempat abad.
Tak ada pidato panjang.
Tak ada puisi.
Tak ada janji baru.
Karena semua yang ingin ia katakan…
sudah hidup di dalam lagu itu.
Ada hadiah yang hanya bertahan beberapa hari.
Ada hadiah yang bertahan beberapa tahun.
Namun ada pula hadiah yang akan terus hidup, bahkan ketika rambut telah memutih dan usia terus bertambah.
Sebuah lagu.
Sebuah cerita.
Sebuah kenangan yang akan selalu bisa diputar kembali kapan saja.
Mungkin itulah alasan mengapa “Lagu Untuk Susi” terasa begitu menyentuh. Karena lagu ini tidak lahir dari imajinasi semata, melainkan dari perjalanan panjang tentang cinta, pengorbanan, kesetiaan, dan rasa syukur yang benar-benar dijalani.
Dan barangkali, setelah membaca kisah ini, Anda akan teringat pada seseorang yang telah menemani langkah hidup Anda selama bertahun-tahun. Seseorang yang mungkin tidak pernah meminta hadiah mahal, tetapi pantas mendapatkan penghargaan yang tak ternilai.
Jika demikian, luangkan waktu untuk mendengarkan “Lagu Untuk Susi”. Biarkan setiap lirik dan melodinya mengajak Anda mengenang perjalanan cinta yang mungkin selama ini jarang diucapkan, tetapi selalu dirasakan.
Karena pada akhirnya, setiap orang memiliki satu nama yang diam-diam tersimpan di dalam hati. Dan siapa tahu, nama itu layak diabadikan menjadi sebuah lagu.
Seperti Susi.
Dan jika Anda ingin menghadiahkan sesuatu yang benar-benar berbeda kepada orang tersayang—sebuah lagu yang lahir dari kisah hidup Anda sendiri—maka impian itu bukan lagi sesuatu yang mustahil. CH Production menghadirkan layanan jasa pembuatan lagu profesional yang membantu mengubah kenangan, rasa syukur, dan ungkapan cinta menjadi karya musik yang personal, eksklusif, dan abadi. Sebab ada kalanya, kata-kata tidak cukup. Namun ketika kata-kata bertemu melodi, lahirlah hadiah yang akan terus hidup sepanjang masa.